11 Juli 2013 - 19:30
Ikhwanul Muslimin Manfaatkan Agama demi Ambisinya

Assad meminta agar pihak-pihak yang memanfaatkan agama demi kepentingannya, dan pihak-pihak yang bersandar kepada agama dalam mempertahankan masalah-masalah legal dan hakiki harus dibedakan. Ikhwanul Muslimin hari ini keras terhadap saudara-saudara sebangsanya tapi lembut terhadap rezim Israel dan Barat, dan tidak lain hanya menginginkan restu mereka.

Menurut Kantor Berita ABNA, Presiden Suriah berharap, dengan jatuhnya Ikhwanul Muslimin, kelompok yang menjadikan agama sebagai pelayan ambisi-ambisinya, identitas Arab kembali ke posisi yang sebenarnya.

 

Fars News (11/7) melaporkan, BasharAssad dalam wawancaranya dengan surat kabar Al Baath mengatakan, "Masalah etnik dan Arab memang selalu menjadi sasaran, tapi diharapkan pasca kejatuhan Ikhwanul Muslimin dan dengan semakin jelasnya realitas bahwa sejumlah gerakan memanfaatkan agama untuk kepentingan dan tujuannya, identitas Arab akan kembali ke posisi sebenarnya."

Dalam wawancaranya yang dipublikasikan hari Kamis (11/7), Assad menjelaskan, "Di tengah upaya-upaya yang dilakukan untuk merusak identitas Arab kami, identitas ini tetap ada. Kami memiliki identitas Arab yang moderat yang memerlukan kerja media, budaya, politik dan agama untuk mempertahankannya."

Menurut Presiden Suriah, maksud dari Islam politik di Mesir itu adalah partai-partai seperti Ikhwanul Muslimin yang menyalahgunakan agama.

Assad meminta agar pihak-pihak yang memanfaatkan agama demi kepentingannya, dan pihak-pihak yang bersandar kepada agama dalam mempertahankan masalah-masalah legal dan hakiki harus dibedakan. Ikhwanul Muslimin hari ini keras terhadap saudara-saudara sebangsanya tapi lembut terhadap rezim Israel dan Barat, dan tidak lain hanya menginginkan restu mereka.

Di sini muncul pertanyaan dimana peran intelektual dan partai-partai etnis dalam menggerakkan para pemuda yang berdemonstrasi di jalanan dengan mengusung identitas nasional dan Islam moderat?.